Ulasan Novel Aib dan Nasib (Minanto): Hidup di Kampung Itu Keras!
Aib dan Nasib, novel tentang orang-orang biasa seperti "kita". Setiap cerita dalam novel ini akan terasa begitu dekat dan biasa seperti seliweran gosip-gosip di teras tetangga. Terlebih jika kamu hidup di pedesaan, atau setidaknya di lingkungan miskin mana saja di penjuru Indonesia. Saking dekatnya mungkin kamu akan menganggap setiap tokoh dalam buku ini adalah tetanggamu sendiri, atau bahkan dirimu sendiri.
Cukuplah cerita orang-orang Tegalurung, sebuah kampung yang menjadi latar dalam novel ini sekaligus kampung halaman Minanto sang penulis novel ini, menjadi semacam miniatur gambaran kehidupan masyarakat Indonesia. Tepatnya masyarakat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Aib dan Nasib menawarkan gambaran lain dari kehidupan masyarakat pedesaan. Sudah cukuplah kita membayangkan kehidupan pedesaan yang penuh ketenangan di mana gunung hijau menjulang dan pemandangan sawah yang indah terhampar. Membaca novel ini, kita akan diajak untuk mulai bertanya, sawah-sawah itu punya siapa? Apakah sawah-sawah itu dapat menghidupi para petani? Apakah hasil panen dari apa yang mereka cangkul itu dapat mengepulkan asap dapur, menyekolahkan anak, atau sekedar membangun rumah gedong milik mereka sendiri?
Hidup di pedesaan itu keras! Begitulah gambaran lain mengenai kehidupan pedesaan yang ditawarkan novel ini. Bagaimana kehidupan masyarakatnya begitu ketat dipagari oleh apa yang dinamakan aib dan gosip. Tidak apa-apalah jika hidup miskin, penuh tekanan batin, dan siksaan fisik. Asalkan aib bisa ditutupi dan gosip bisa dibungkam.
Tinggal di Tegalurung, hidup sudah dianggap sugih jika mampu lulus SMA, setelah itu mendapatkan pekerjaan. Para pemuda cukup jadi buruh pabrik dan para pemudi cukup jadi TKW di luar negeri atau sekedar menjadi seorang istri. Kehidupan ideal yang tidak terlalu neko-neko tersebut, nyatanya tetap sulit dimenangkan. Bagi orang yang telah kalah dalam arena peraduan nasib, kehidupan mereka harus buntu pada satu-satunya pilihan yaitu penerimaan.
Segala kemalangan hidup seperti kemiskinan hanya sebatas nasib buruk bagi orang-orang sial yang patutnya diterima dan disyukuri. Kurang lebih seperti itulah anggapan dan sikap masyarakat Tegalurung terhadap hidupnya sendiri. Alih-alih menyadari bahwa sebenarnya mereka tidak miskin, tetapi dimiskinkan oleh sistem yang ada. Terlepas dari hal tersebut sikap mereka boleh dikatakan wajar karena selain dimiskinkan, bersamaan dengan itu mereka juga dibodohkan.
Sekeras apapun para tokoh bekerja, sebagai buruh pabrik, tukang becak, atau pemberi jasa membuang sampah rumahan. Hasilnya tetap tidak bisa merubah rumah gubuk jadi rumah bata, tidak cukup dijadikan modal untuk membeli hp impian atau sekedar modal untuk meminang pujaan hati. Akhirnya usaha mereka tetap dianggap usaha yang kurang keras.
Kesulitan ekonomi yang berkolaborasi dengan keyakinan moral masyarakat telah menyebabkan kekacauan jalan hidup dan penyaluran hasrat para tokoh dalam novel ini. Hasrat beberapa tokoh yang terepresi mencari penuntasan dengan berbagai penyaluran palsu. Misalnya, beberapa tokoh remaja dalam novel ini yang tidak mendapatkan penerimaan dari orang tua selama masa perkembangan menuju dewasa, sebagai pelarian mereka mencari penerimaan dan pengakuan dari teman sebaya. Tentu penerimaan dan pengakuan dari teman sebaya tidak bernilai gratis alias memiliki syarat. Syarat inilah yang nantinya menjadikan beberapa tokoh sebagai bangsat pemain dan pemerkosa perempuan. Begitulah hasrat 'diakui' beberapa tokoh dalam novel ini dapat tersalurkan. Beberapa tokoh yang lain dapat menyalurkan hasrat seksual dengan hanya mengandalkan konten porno dalam handphone atau sebuah lubang pada pelepah pohon pisang.
Novel ini juga menggambarkan budaya patriarki yang nyatanya menghantui masyarakat di berbagai kalangan, termasuk kalangan marjinal. Bagi perempuan yang hidup di lingkungan patriarkal, hamil di luar nikah adalah aib yang dipaksa harus segera ditutup dengan sebuah pernikahan. Budaya patriarki tidak hanya menghantui perempuan melainkan juga laki-laki, novel ini menceritakan bagaimana satu tokoh laki-laki single parent salah dalam mengasuh anak karena memang masyarakat dalam budaya patriarki tidak akan mengajarkan seorang laki-laki mengurus pekerjaan domestik seperti mengasuh anak. Pekerjaan domestik diperuntukan bagi perempuan dan pekerjaan publik diperuntukan bagi laki-laki.
Begitulah novel ini menceritakan orang-orang marjinal yang jarang diliput tv karena tersingkir oleh liputan yang berisi kepentingan orang-orang kelas atas seperti siaran kampanye sebuah pemilu.
Cerita dalam novel ini disajikan dalam bentuk fragmen-fragmen episodik dengan tanpa menampilkan tokoh sentral. Selain itu alur yang dipakai yaitu maju-mundur. Penyajian tulisan yang seakan dibolak-balik berkali lipat tersebut membuat pekerjaan membaca novel ini tidak terasa membosankan dan malah membuat penasaran. Ambisi pembaca untuk membaca novel ini dalam sekali duduk akan terus dipacu karena setiap fragmen tidak akan berakhir sebelum pembaca tuntas membaca sampai bagian akhir. Membaca bagian awal novel ini pembaca akan merasa seperti 'dalam sekali baca 4 cerita akan terlampaui'. Tetapi setelah pembaca sampai di bagian akhir novel, pembaca akan merasa hanya telah melampaui satu cerita saja.
Cukuplah cerita orang-orang Tegalurung, sebuah kampung yang menjadi latar dalam novel ini sekaligus kampung halaman Minanto sang penulis novel ini, menjadi semacam miniatur gambaran kehidupan masyarakat Indonesia. Tepatnya masyarakat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Aib dan Nasib menawarkan gambaran lain dari kehidupan masyarakat pedesaan. Sudah cukuplah kita membayangkan kehidupan pedesaan yang penuh ketenangan di mana gunung hijau menjulang dan pemandangan sawah yang indah terhampar. Membaca novel ini, kita akan diajak untuk mulai bertanya, sawah-sawah itu punya siapa? Apakah sawah-sawah itu dapat menghidupi para petani? Apakah hasil panen dari apa yang mereka cangkul itu dapat mengepulkan asap dapur, menyekolahkan anak, atau sekedar membangun rumah gedong milik mereka sendiri?
Hidup di pedesaan itu keras! Begitulah gambaran lain mengenai kehidupan pedesaan yang ditawarkan novel ini. Bagaimana kehidupan masyarakatnya begitu ketat dipagari oleh apa yang dinamakan aib dan gosip. Tidak apa-apalah jika hidup miskin, penuh tekanan batin, dan siksaan fisik. Asalkan aib bisa ditutupi dan gosip bisa dibungkam.
Tinggal di Tegalurung, hidup sudah dianggap sugih jika mampu lulus SMA, setelah itu mendapatkan pekerjaan. Para pemuda cukup jadi buruh pabrik dan para pemudi cukup jadi TKW di luar negeri atau sekedar menjadi seorang istri. Kehidupan ideal yang tidak terlalu neko-neko tersebut, nyatanya tetap sulit dimenangkan. Bagi orang yang telah kalah dalam arena peraduan nasib, kehidupan mereka harus buntu pada satu-satunya pilihan yaitu penerimaan.
Segala kemalangan hidup seperti kemiskinan hanya sebatas nasib buruk bagi orang-orang sial yang patutnya diterima dan disyukuri. Kurang lebih seperti itulah anggapan dan sikap masyarakat Tegalurung terhadap hidupnya sendiri. Alih-alih menyadari bahwa sebenarnya mereka tidak miskin, tetapi dimiskinkan oleh sistem yang ada. Terlepas dari hal tersebut sikap mereka boleh dikatakan wajar karena selain dimiskinkan, bersamaan dengan itu mereka juga dibodohkan.
Sekeras apapun para tokoh bekerja, sebagai buruh pabrik, tukang becak, atau pemberi jasa membuang sampah rumahan. Hasilnya tetap tidak bisa merubah rumah gubuk jadi rumah bata, tidak cukup dijadikan modal untuk membeli hp impian atau sekedar modal untuk meminang pujaan hati. Akhirnya usaha mereka tetap dianggap usaha yang kurang keras.
Kesulitan ekonomi yang berkolaborasi dengan keyakinan moral masyarakat telah menyebabkan kekacauan jalan hidup dan penyaluran hasrat para tokoh dalam novel ini. Hasrat beberapa tokoh yang terepresi mencari penuntasan dengan berbagai penyaluran palsu. Misalnya, beberapa tokoh remaja dalam novel ini yang tidak mendapatkan penerimaan dari orang tua selama masa perkembangan menuju dewasa, sebagai pelarian mereka mencari penerimaan dan pengakuan dari teman sebaya. Tentu penerimaan dan pengakuan dari teman sebaya tidak bernilai gratis alias memiliki syarat. Syarat inilah yang nantinya menjadikan beberapa tokoh sebagai bangsat pemain dan pemerkosa perempuan. Begitulah hasrat 'diakui' beberapa tokoh dalam novel ini dapat tersalurkan. Beberapa tokoh yang lain dapat menyalurkan hasrat seksual dengan hanya mengandalkan konten porno dalam handphone atau sebuah lubang pada pelepah pohon pisang.
Novel ini juga menggambarkan budaya patriarki yang nyatanya menghantui masyarakat di berbagai kalangan, termasuk kalangan marjinal. Bagi perempuan yang hidup di lingkungan patriarkal, hamil di luar nikah adalah aib yang dipaksa harus segera ditutup dengan sebuah pernikahan. Budaya patriarki tidak hanya menghantui perempuan melainkan juga laki-laki, novel ini menceritakan bagaimana satu tokoh laki-laki single parent salah dalam mengasuh anak karena memang masyarakat dalam budaya patriarki tidak akan mengajarkan seorang laki-laki mengurus pekerjaan domestik seperti mengasuh anak. Pekerjaan domestik diperuntukan bagi perempuan dan pekerjaan publik diperuntukan bagi laki-laki.
Begitulah novel ini menceritakan orang-orang marjinal yang jarang diliput tv karena tersingkir oleh liputan yang berisi kepentingan orang-orang kelas atas seperti siaran kampanye sebuah pemilu.
Cerita dalam novel ini disajikan dalam bentuk fragmen-fragmen episodik dengan tanpa menampilkan tokoh sentral. Selain itu alur yang dipakai yaitu maju-mundur. Penyajian tulisan yang seakan dibolak-balik berkali lipat tersebut membuat pekerjaan membaca novel ini tidak terasa membosankan dan malah membuat penasaran. Ambisi pembaca untuk membaca novel ini dalam sekali duduk akan terus dipacu karena setiap fragmen tidak akan berakhir sebelum pembaca tuntas membaca sampai bagian akhir. Membaca bagian awal novel ini pembaca akan merasa seperti 'dalam sekali baca 4 cerita akan terlampaui'. Tetapi setelah pembaca sampai di bagian akhir novel, pembaca akan merasa hanya telah melampaui satu cerita saja.
