Postingan

Perihal Menikah

Tepat 40 hari semenjak aku membubarkan pertunangan kami dan aku masih belum punya nyali untuk memberitahu orang tua sendiri. Sudah menjadi kebiasaanku, memutuskan apa-apa sendiri. Kebiasaan yang sudah dimulai semenjak kecil. Mungkin itu yang menjadikan aku anomali di keluarga ini. Tidak perlu menebak kenapa kali ini tidak jadi lagi. Segala sesuatu di dunia ini termasuk hubungan manusia dijanjikan akan berakhir, cepat atau lambat. Sejujurnya aku tidak terlalu suka membicarakan mantan kekasih. Dari dulu selalu tegas memberi titik pada apa-apa yang sudah berhenti termasuk masa lalu. Biar terpenjara saling menumpuk, entah masuk alam bawah sadar atau hilang ke mana. Pekerjaanku banyak sekali, sudah menjulur panjang rentetan daftar buku, daftar film, masalah siswa, teman, orang asing, dst. Apakah aku tidak sedih? Seingatku, sampai saat ini aku hanya menangis sekali, bukan karena patah hati, tetapi karena belum siap seandainya mamah menjadi sedih karena ini. Jika aku menikah, mamah pas...

MEMBACA CALA IBI

Gambar
Buku ini menjadi buku yang memerlukan waktu paling lama untuk aku selesaikan sampai habis. Sempat membacanya 3 tahun lalu, sampai 1 bab saja, kemudian menyerah. Bukan karena bukunya tidak bagus, sebaliknya buku ini menurutku begitu agung, puncak buku sastra yang pernah aku baca sejauh ini. Kalau tidak salah ingat, situasi saat itu memang sedang membuatku menjadi tidak bebas untuk melakukan hobi-hobi, termasuk kegiatan membaca. Bulan Oktober kemarin, aku bertemu lagi buku ini di sebuah toko kopi dan buku. Cala Ibi dengan sambul bergambar jamur, salah satu objek yang sempat diperkarakan dalam buku ini. Sedangkan punyaku bergambar lukisan mirip mata Naga (interpretasiku sendiri), karakter yang muncul paling dominan di buku ini. Aslinya, menurut keterangan itu lukisan gunung emas, sumber konflik manusia sepanjang zaman yang juga dibahas dalam buku ini. Sama halnya dengan komentar Sapardi, jika ditanya buku ini menceritakan apa, aku juga akan kelabakan. Haha. Sama seperti buku lainnya...

Ulasan Novel Setan Van Oyot (Djokolelono): Biarlah Takhayul yang Menjawab

Hanya ada dua nasib yang dapat diterima oleh wanita pribumi "cantik" di masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Status sosial mereka bisa naik sampai setingkat Mevrouw, tingkat paling tinggi yang dapat dicapai wanita pribumi pada masa itu. Kalau tidak, mungkin hanya menjadi objek seksual para lelaki bangsa mana saja termasuk bangsanya sendiri, entah itu jadi objek siulan para lelaki kucing jalanan, colekan para Meneer genit, atau jadi gundik pengganti guling para londo kesepian. Butuh tiga setengah abad untuk pribumi menjadi sadar. Bangsa mereka telah hidup tanpa kekuasaan. Macam-macam siasat muncul pada sebagian diri individu pribumi di Wlingi untuk meraih kekuasaan. Seorang pribumi "cantik" bernama Kesi telah bertahan hidup dengan mengandalkan kecantikannya. Kecantikannya memang bisa dikatakan sebuah berkah cuma-cuma pemberian semesta, tetapi keahlian mengandalkannya merupakan sebuah usaha cerdas. Hanya wanita cerdas yang dapat mengambil keuntungan dari ...

Ulasan Buku One Hundread Years of Solitude (Gabriel Garcia Marquez): Apa Yang Saya Tidak Tahu, Sudah Diketahui Buku Ini!

Gambar
Bagi saya yang asing dengan wilayah Amerika Latin, membaca cerita kota Macondo dalam buku tulisan Gabo ini seakan sedang mendalami wilayah Amerika Latin. Kota Macondo merupakan kota imajiner dari Amerika Latin. Begitulah tuduhan saya setelah saya juga membaca biografi Gabo sebagai tambahan referensi. Salah satu kebiasaan saya ketika membaca sebuah karya tulis, pasti saya juga akan membaca biografi si penulis. Menurut saya faktor-faktor seperti keadaan psikis, pengalaman, situasi lingkungan si penulis ketika menulis sebuah karya dapat mempengaruhi karya tulis itu sendiri, dan hal tersebut dapat mempengaruhi penafsiran saya mengenai sebuah karya tulis. Saya punya keyakinan bahwa sebuah karya tulis fiksi atau bukan, pasti menceritakan kehidupan si penulisnya baik secara langsung ataupun tidak. Menamatkan buku ini membuat saya ter-stimulus untuk mencari tahu keterkaitan beberapa keterangan dalam buku ini dengan catatan sejarah Amerika Latin. Seperti keadaan politik Amerika Latin pada...

Ulasan Novel Aib dan Nasib (Minanto): Hidup di Kampung Itu Keras!

Gambar
Aib dan Nasib, novel tentang orang-orang biasa seperti "kita". Setiap cerita dalam novel ini akan terasa begitu dekat dan biasa seperti seliweran gosip-gosip di teras tetangga. Terlebih jika kamu hidup di pedesaan, atau setidaknya di lingkungan miskin mana saja di penjuru Indonesia. Saking dekatnya mungkin kamu akan menganggap setiap tokoh dalam buku ini adalah tetanggamu sendiri, atau bahkan dirimu sendiri. Cukuplah cerita orang-orang Tegalurung, sebuah kampung yang menjadi latar dalam novel ini sekaligus kampung halaman Minanto sang penulis novel ini, menjadi semacam miniatur gambaran kehidupan masyarakat Indonesia. Tepatnya masyarakat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Aib dan Nasib menawarkan gambaran lain dari kehidupan masyarakat pedesaan. Sudah cukuplah kita membayangkan kehidupan pedesaan yang penuh ketenangan di mana gunung hijau menjulang dan pemandangan sawah yang indah terhampar. Membaca novel ini, kita akan diajak untuk mulai bertanya, sawah-sawa...

Psikologi Perempuan: Gugatan Terhadap Keilmuan Psikologi

 Kenyataannya sampai sekarang banyak sekali prasangka-prasangka yang berdasar pada perbedaan jenis kelamin perempuan dan laki-laki dianggap sebagai fakta ilmiah oleh sebagian besar masyarakat. Sering sekali kita mendengar tuduhan masyarakat yang menyebutkan bahwa perempuan adalah makhluk perasa yang rapuh dan emosional, sedangkan laki-laki adalah makhluk egois yang kurang peka. Hal tersebut adalah salah satu contoh dari sekian banyaknya prasangka yang ditujukan kepada perempuan atau laki-laki. Prasangka-prasangka tersebut ikut berkontribusi pada terjadinya ketimpangan di antara kedua jenis kelamin dalam berbagai segi kehidupan. Fenomena tersebut lantas menimbulkan sebuah pertanyaan, "Mengapa pembedaan antara kedua jenis kelamin tercipta sedangkan keduanya adalah sama-sama manusia?". Pertama, untuk menjawab pertanyaan tersebut kita perlu mencari tahu dari mana asal perbedaan antara kedua jenis kelamin dihadirkan. Dimensi biologis menjadi akar terjadinya pembedaan tersebut...

Ulasan Buku Kejahatan dan Hukuman (Fyodor Dostoyevsky)

Gambar
 Jika novel bergenre misteri atau detektif akan mencoba menguak sebuah kasus kejahatan melalui seorang tokoh sentral yang memiliki latar belakang sebagai seorang detektif, polisi atau keluarga korban. Kemudian, cerita biasanya akan dipenuhi dengan usaha tokoh sentral tersebut dalam pencarian pelaku. Maka novel Kejahatan dan Hukuman sebagai novel yang menurut saya lebih cenderung bergenre psikologis, mencoba menguak sebuah kasus kejahatan melalui pergumulan batin pelaku kejahatan itu sendiri. Ya, novel ini akan membawa imajinasi kita untuk mendalami sebuah kasus kejahatan dari sudut pandang pelaku itu sendiri. Novel Kejahatan dan Hukuman merupakan salah satu karya seorang sastrawan rusia yang bernama Fyodor Mikhailovich Dostoyevsky (1821-1881) atau sering dipanggil Dostoyevsky. Karya-karyanya termasuk novel ini memiliki keunikan sendiri, karena cerita-ceritanya dipenuhi dengan eksplorasi dostoyevsky terhadap jiwa manusia secara realis. Hal tersebutlah yang menarik saya sebagai seora...