MEMBACA CALA IBI

Buku ini menjadi buku yang memerlukan waktu paling lama untuk aku selesaikan sampai habis. Sempat membacanya 3 tahun lalu, sampai 1 bab saja, kemudian menyerah. Bukan karena bukunya tidak bagus, sebaliknya buku ini menurutku begitu agung, puncak buku sastra yang pernah aku baca sejauh ini. Kalau tidak salah ingat, situasi saat itu memang sedang membuatku menjadi tidak bebas untuk melakukan hobi-hobi, termasuk kegiatan membaca.

Bulan Oktober kemarin, aku bertemu lagi buku ini di sebuah toko kopi dan buku. Cala Ibi dengan sambul bergambar jamur, salah satu objek yang sempat diperkarakan dalam buku ini. Sedangkan punyaku bergambar lukisan mirip mata Naga (interpretasiku sendiri), karakter yang muncul paling dominan di buku ini. Aslinya, menurut keterangan itu lukisan gunung emas, sumber konflik manusia sepanjang zaman yang juga dibahas dalam buku ini.

Sama halnya dengan komentar Sapardi, jika ditanya buku ini menceritakan apa, aku juga akan kelabakan. Haha. Sama seperti buku lainnya, buku ini juga memiliki moral of the story yang ingin disampaikan kepada pembaca. Hanya saja caranya tidak melalui uraian cerita beralur jelas, tetapi lewat imaji-imaji penulis yang kadang aku sendiri tidak yakin mengerti atau tidak.

Cerita berloncatan tak jelas awal-akhir, entah masih satu cerita yang sama atau sudah beralih ke cerita yang lain. Cerita tentang riwayat keluarga, nama, jamur, naga, cermin, Bapak, Ibu, kampung halaman, yang nyata, yang maya, nasib, takdir, setan, adam-hawa, semesta, Tuhan, dst. Cerita disodorkan berserakan seperti puzzle penuh teka teki.

Alih-alih menyebut objek dengan namanya atau kejadian dengan kronologinya, penulis selalu memiliki bahasa tersendiri atas semua itu dengan menggunakan metafora dan imaji sendiri. Aku sebut saja gaya bahasa Nukila Amal ini memakai bahasa mimpi. Bahasa tanpa filter antara khayalan dan realitas. Penulis seakan sedang berasosiasi bebas terhadap mimpi-mimpinya. Tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan, hadir sekilas-sekilas, bercampur aduk selayaknya mimpi manusia.

Mimpi, keadaan di mana kesadaran sedang lengah, namun tidak sepenuhnya alpa. Ketaksadaran membuat gambaran mimpi mengikuti hasrat sebebas-bebasnya. Sedangkan, mekanisme pertahanan diri membuat rupa mimpi tidak pernah sampai pada objek sebenarnya, selalu diganti dengan objek semrawut apa saja.

Kebayang kan pusingnya? hihi. Tetapi, buku yang bikin pusing malah itu yang menantang bukan? Menurutku, inilah buku sastra yang sejati, buku yang berbicara kepada kita bukan dengan bahasa sederhana sehari-hari, melainkan dengan bahasa sastrawi yang perlu diuraikan berkali-kali untuk menemukan interpretasi. Seperti sebuah kutipan di halaman 74 buku ini, yang mirip semacam disclaimer penulis:

"Itulah mengapa, sebaik-baiknya penceritaan realita, ialah dengan alegori, metafora--imaji-imaji yang mengalir seperti mimpi, tak nyata, di luar yang nyata... tak pernah sampai pada yang nyata. Ingat ini, takkan pernah. Selanjutnya, terserah pembaca."

Mencari moral of the story dalam buku ini sama seperti sedang menafsir mimpi ala Psikoanalisa. Namun, seperti disclaimer penulis sebelumya, terserah kepada pembaca ingin mencari sampai mana. Tidak perlu sampai menjadi terapis Psikoanalisa juga. Tetap saja kita tidak akan pernah sampai pada yang nyata, atau pada apa yang disebut object a dalam Psikoanalisa Lacan. Mungkin, itulah pesan sebenarnya yang ingin disampaikan penulis melalui buku ini.

Di bagian akhir, buku ini kental dengan kesan eksistensial. Penulis seakan sengaja menyimpan petunjuk dalam rentetan puisi (yang lagi-lagi harus ditafsirkan) di bagian akhir untuk menafsir setiap puzzle cerita. Supaya pembaca bisa memetik makna, yang biasa muncul di akhir setelah mengalami dan memahami. Makna yang membuka pencarian atas makna yang lain lagi, tak berujung.

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Novel Aib dan Nasib (Minanto): Hidup di Kampung Itu Keras!

Perihal Menikah