Perihal Menikah

Tepat 40 hari semenjak aku membubarkan pertunangan kami dan aku masih belum punya nyali untuk memberitahu orang tua sendiri. Sudah menjadi kebiasaanku, memutuskan apa-apa sendiri. Kebiasaan yang sudah dimulai semenjak kecil. Mungkin itu yang menjadikan aku anomali di keluarga ini.

Tidak perlu menebak kenapa kali ini tidak jadi lagi. Segala sesuatu di dunia ini termasuk hubungan manusia dijanjikan akan berakhir, cepat atau lambat. Sejujurnya aku tidak terlalu suka membicarakan mantan kekasih. Dari dulu selalu tegas memberi titik pada apa-apa yang sudah berhenti termasuk masa lalu. Biar terpenjara saling menumpuk, entah masuk alam bawah sadar atau hilang ke mana.

Pekerjaanku banyak sekali, sudah menjulur panjang rentetan daftar buku, daftar film, masalah siswa, teman, orang asing, dst. Apakah aku tidak sedih? Seingatku, sampai saat ini aku hanya menangis sekali, bukan karena patah hati, tetapi karena belum siap seandainya mamah menjadi sedih karena ini.

Jika aku menikah, mamah pasti akan bahagia sekali. Sedangkan aku punya banyak pilihan untuk bahagia. Aku bisa bahagia jika lanjut S2, menghabiskan waktu dengan membaca, berkunjung ke Perancis atau Rusia, dst. Tetapi, seringnya kebahagiaan anak bukan kebahagiaan orang tua dan sebaliknya.

Apakah aku akan bahagia jika menikahi seorang laki-laki?

Entahlah... soal laki-laki, aku lebih banyak mengiri daripada mencintai. Tanpa bermodal apapun, menurutku laki-laki sudah menjadi hebat semenjak lahir. Sudah menjadi kebanggan masyarakat. Sedangkan perempuan lahir dengan sejuta sumber aib bawaan. Terbatas moral dan waktu.

Aku pikir genre hidupku bukan romance seperti hidup teman-temanku. Perihal cinta-menikah bukan sesuatu yang wajib dan utama. Pikiran ini entah bermula baru kali ini atau sudah dari semenjak dulu. Mungkin hidupku lebih cocok disebut bergenre eksistensial. Haha. Terdengar terlalu serius seperti filsuf.

Menikah masih menjadi perkara yang harus dipikir-pikir lagi. Jika ada yang bertanya kapan aku akan menikah? Aku punya jawaban andalan, "cukup doakan saja".

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Novel Aib dan Nasib (Minanto): Hidup di Kampung Itu Keras!

MEMBACA CALA IBI