Psikologi Perempuan: Gugatan Terhadap Keilmuan Psikologi

 Kenyataannya sampai sekarang banyak sekali prasangka-prasangka yang berdasar pada perbedaan jenis kelamin perempuan dan laki-laki dianggap sebagai fakta ilmiah oleh sebagian besar masyarakat. Sering sekali kita mendengar tuduhan masyarakat yang menyebutkan bahwa perempuan adalah makhluk perasa yang rapuh dan emosional, sedangkan laki-laki adalah makhluk egois yang kurang peka. Hal tersebut adalah salah satu contoh dari sekian banyaknya prasangka yang ditujukan kepada perempuan atau laki-laki. Prasangka-prasangka tersebut ikut berkontribusi pada terjadinya ketimpangan di antara kedua jenis kelamin dalam berbagai segi kehidupan.

Fenomena tersebut lantas menimbulkan sebuah pertanyaan, "Mengapa pembedaan antara kedua jenis kelamin tercipta sedangkan keduanya adalah sama-sama manusia?". Pertama, untuk menjawab pertanyaan tersebut kita perlu mencari tahu dari mana asal perbedaan antara kedua jenis kelamin dihadirkan. Dimensi biologis menjadi akar terjadinya pembedaan tersebut, dimana manusia dibagi ke dalam dua jenis kelamin (seks) yaitu perempuan dan laki-laki. Perempuan didefinisikan sebagai individu yang memiliki vagina, rahim, payudara, dan berkemampuan untuk memproduksi sel telur. Sedangkan laki-laki adalah individu yang memiliki penis, jakun dan berkemampuan untuk menghasilkan sperma. Secara sosial perbedaan biologis antara kedua jenis kelamin tersebut menjadi dasar bagi masyarakat untuk melekatkan sifat-sifat tertentu pada keduanya, selanjutnya sifat-sifat tersebut disebut dengan gender. Misalnya perempuan dianggap memiliki sifat lembut, penyayang dan penuh akan empati. Sedangkan laki-laki dianggap memiliki sifat tegas, kuat, dan rasional. Mansoer Faqih berpendapat bahwa perbedaan gender sebenarnya bukan sebuah masalah kecuali hal tersebut dapat menimbulkan ketidakadilan gender.

Fenomena ketidakadilan gender berbasis perbedaan jenis kelamin memantik berbagai kajian mengenai perempuan, hal ini disebabkan oleh penemuan data-data bahwa perempuan menjadi satu jenis kelamin yang lebih dirugikan oleh adanya ketidakadilan gender daripada laki-laki. Dari sekian banyaknya kajian perempuan, sangat jarang menemukan kajian yang mendalami psikis perempuan. Hal ini dapat dilihat dari minimnya literatur yang membahas psikologi perempuan khususnya di Indonesia. Adapun beberapa literatur dengan label psikologi perempuan atau psikologi gender yang beredar saat ini kebanyakan hanya membahas peran gender perempuan dan laki-laki mengacu pada konstruk masyarakat patriarkal. Adapun data-data yang ditawarkan biasanya hanya berupa angka statistik yang dihasilkan dari penelitian kuantitatif yang kurang bisa menggambarkan keadaan psikis perempuan dengan posisi sebagai subjek. Beberapa literatur bahkan secara saklek hanya berdasar pada pembagian peran gender yang dikonstruk masyarakat.

Pentingnya psikologi perempuan menjadi sub kajian khusus dalam ilmu psikologi

Nani Nurrachman seorang dosen psikologi sekaligus seorang feminis berpendapat bahwa psikologi arus utama bersifat androsentris. Selain itu ahli-ahli psikologi perempuan mengalami peminggiran di ranah akademik. Dampaknya teori psikologi banyak didominasi oleh ahli psikologi laki-laki. Nama ahli-ahli psikologi perempuan seakan "dikubur"dan "disembunyikan" dari sejarah. Meskipun pemikiran para ahli psikologi perempuan tidak kalah berpengaruh dari pemikiran ahli psikologi laki-laki. Berdasar hal tersebut, maka dipandang perlu untuk memasukan analisis dari sudut pandang perempuan dalam kajian psikologi.

Sama halnya dengan kajian ilmu lain seperti ilmu filsafat contohnya, peminggiran dalam ranah akademik yang dialami filsuf perempuan menyebabkan munculnya gugatan-gugatan dari beberapa filsuf perempuan salah satunya yaitu Gadis Arivia, seorang dosen studi feminisme dan filsafat kontemporer UI. Gadis Arivia menggugat melalui bukunya yang berjudul "Filsafat Berspektif Feminis". Ilmu psikologi juga mendapat gugatan dari beberapa ahli psikologi perempuan dan feminis di beberapa negara termasuk Indonesia. Kajian ilmu psikologi dituntut untuk menjadikan psikologi perempuan sebagai sub kajian khusus dalam psikologi.

Bukan tanpa alasan mengapa psikologi perempuan harus dijadikan sub-kajian tersendiri dalam ilmu psikologi. Kajian psikologi harus bebas dari bias terkhusus yang disebabkan oleh pembedaan jenis kelamin. Perempuan harus dikaji melalui keberpengalaman perempuan sendiri. Penelitian berbasis kualitatif perlu digalakan untuk memperkaya data psikologi yang lebih mendalami individu secara subjektif.

Sejarah psikologi perempuan

Psikologi perempuan mencuat di dunia barat sekitar abad 70 sampai 80-an. Kemunculannya merupakan sebuah reaksi terhadap psikologi arus utama yang dianggap bersifat androsentris terkhusus kajian madzhab psikoanalisa yang diusung oleh Sigmund Freud. Freud dengan beberapa pemikiran psikoanalisa seperti Oedipus Complex, yaitu gejala psikis anak laki-laki yang diduga memiliki kecendrungan mencintai ibunya dan membenci ayahnya karena menjadi penghalang cintanya terhadap ibunya. Dianggap sebagai konsep yang muncul hanya dari sudut pandang laki-laki. Nama Oedipus Complex sendiri didapat dari legenda yunani yang bercerita mengenai seorang pemuda bernama Oedipus yang mencintai ibunya sendiri yaitu Jocasta, Oedipus berusaha membunuh ayahnya sendiri untuk mendapatkan cinta ibunya. Freud dianggap hanya memandang gejala psikis tersebut dari sudut pandang Oedipus sebagai anak laki-laki tanpa mempertimbangkan sudut pandang Jocasta sebagai ibu (perempuan).

Konsep lain dari psikoanalisa yang mendapat perhatian dari para ahli psikologi perempuan dan feminis yaitu penis envy, sebuah konsep yang menyebutkan bahwa anak perempuan disinyalir memiliki rasa iri karena tidak memiliki penis seperti laki-laki. Karen Horney yang merupakan seorang ahli psikologi mengkritisi konsep tersebut dan menganggap bahwa jika perempuan iri terhadap penis laki-laki, maka ada kemungkinan laki-laki juga iri terhadap rahim yang dimiliki perempuan. Selanjutnya, filsuf perempuan Simone De Beauvoir menganggap bahwa perempuan iri terhadap keisitimewaan yang diberikan masyarakat kepada jenis kelamin laki-laki dan bukan iri kepada keadaan biologis laki-laki yang memiliki penis.

Psikoanalisa memang banyak dikritisi oleh berbagai kalangan termasuk para feminis. Hal ini tidak aneh karena psikoanalisa sendiri pada zamannya memang banyak menelurkan pemikiran yang terbilang baru. Terlebih pembacaan psikoanalisa tidak cukup hanya membacanya secara kata per kata, karena konsep psikoanalisa kebanyakan berisi simbol-simbol yang memiliki makna tertentu. Hal tersebutlah yang menyebabkan banyaknya kesalahan tafsir oleh kalangan di luar psikoanalisa. Meskipun demikian, kehadiran psikoanalisa buktinya memberikan banyak pengaruh salah satunya yaitu memantik munculnya kajian psikologi perempuan.

Kajian psikologi perempuan

Membicarakan ilmu psikologi pada umumnya tidak terbatas pada pembahasan mengenai sifat dan kepribadian manusia saja. Pengertian ilmu psikologi sendiri yaitu ilmu yang mempelajari mengenai perilaku manusia serta proses mental yang melatarbelakanginya. Maka dari itu banyak sekali dimensi manusia yang dapat kita kaji melalui ilmu psikologi seperti kognitif seseorang yang meliputi cara berfikir, cara belajar, memori, persepsi, motivasi dan lain-lain. Tentu kita juga dapat mengkaji dimensi kepribadian, fase perkembangan manusia, bakat, minat dan masih banyak lagi. Untuk mengkaji psikologi perempuan secara khusus maka kita harus membuang pengertian sempit mengenai ilmu psikologi yang sebelumnya banyak diadopsi oleh masyarakat awam. Sehingga kita tidak mereduksi kajian mengenai psikis perempuan atau laki-laki itu sendiri.

Seperti yang telah dipaparkan di awal tulisan ini bahwa manusia sebagai makhluk bio-psiko-sosial menjadikan manusia harus dibedakan menjadi perempuan dan laki-laki. Karakteristik biologis yang berbeda antara perempuan dan laki-laki menyebabkan keduanya memiliki pengalaman kebertubuhan yang berbeda pula. Perbedaan pengalaman biologis yang dikenai persepsi sosial, budaya, serta lingkungan, dapat mempengaruhi perbedaan dimensi psikologis pada keduanya. Tulisan ini hanya akan membahas beberapa saja dari sekian banyaknya gejala psikologis pada diri perempuan atau laki-laki yang dapat dikaji.

1. Konsep diri perempuan

Konsep diri merupakan kesadaran diri untuk berfikir dan merasakan dirinya sebagai "apa"dan "siapa". William James membedakan konsep diri menjadi I (aku) dan Me (diriku). I (aku) merupakan konsep diri dimana seseorang menyadari dirinya sebagai subjek yang memegang segala keputusan terhadap pilihan-pilihan yang dimiliki. Sedangkan Me (diriku) merupakan konsep diri yang bersumber dari internalisasi norma dalam masyarakat.

Pembentukan konsep diri tidak dapat dilepaskan dari proses interaksi dengan orang atau sesuatu yang lain. Keberadaan diri ditimbulkan dari kesadaran manusia itu sendiri bahwa dirinya berbeda dengan yang lain. Lacan, seorang ahli psikoanalisa menggambarkan pembentukan konsep diri dengan istilah mirroring (cermin), pada tahap mirror seorang anak/bayi mengalami kejadian keterpisahan tubuh dan psikologis dengan ibunya dan mendapati bahwa dia dengan ibunya adalah 2 subjek yang terpisah atau berbeda. Melalui tahap itulah konsep diri I (Aku) terbentuk.

Pembentukan konsep diri dapat juga dianalisis menggunakan social learning theory dimana pada hakikatnya diri dibentuk melalui proses imitasi atau identifikasi atas perilaku orang lain terutama orang tua. Misalnya ketika seorang anak menyadari identitas dirinya sebagai perempuan karena mendapati tubuhnya identik dengan tubuh ibunya. Maka untuk menguatkan identitas dirinya anak tersebut akan mengidentifikasi setiap perilaku ibunya. Begitupun dengan laki-laki, dia akan menyadari identitas dirinya sebagai laki-laki karena mendapati tubuhnya identik dengan tubuh ayah dan selanjutnya mulai mengidentifikasi perilaku ayahnya. Selanjutnya anak tersebut baik perempuan atau laki-laki akan mengidentifikasi norma yang ada di masyarakat. Proses tersebut akan membentuk konsep diri sebagai Me (diriku).

Sayangnya, norma sosial masyarakat seringnya menjadi pembatas dalam mewujudkan konsep diri seseorang sebagai subjek terutama bagi perempuan. Jika seseorang mencoba membentuk konsep dirinya dengan cara mengidentifikasi norma sosial secara total, maka dia akan berusaha untuk mengikuti apa yang dianggap tepat (ideal) menurut norma dan menghindari apa yang dianggap kurang tepat menurut norma. Dampaknya konsep diri yang terbentuk hanyalah Me "diriku" yang menempatkan seseorang tersebut hanya sebagai objek.

Masyarakat patriarkal yang pada nyatanya menomorduakan jenis kelamin perempuan dalam berbagai aspek kehidupan menelurkan nilai-nilai yang dapat membatasi perempuan dalam pembentukan konsep diri sebagai subjek. Perempuan diharuskan mengikuti standar-standar ideal yang ada dalam masyarakat patriarkal. Misalnya perempuan harus memiliki kulit putih, hidung mancung dan tubuh langsing untuk memenuhi standar ideal kecantikan yang ada di masyarakat.

Kisah Kartini dapat dijadikan sebagai contoh perjuangan seorang perempuan Indonesia yang berusaha untuk mendefinisikan siapa dirinya. Pengalaman hidupnya yang dipaksa untuk menerima bahwa dirinya harus meninggalkan bangku sekolah dan menjalani proses pingitan sebagai syarat menjadi Raden Ayu menimbulkan konflik batin pada diri Kartini. Kartini mulai mempertanyakan diri pribadinya pada diri sendiri. Mau jadi siapakah dia kelak?

Komunikasi Kartini dengan sahabat pena orang Belanda yang banyak membahas berbagai perbedaan kondisi kehidupan perempuan belanda dan perempuan Jawa membuka pikiran Kartini bahwa selama ini perempuan Jawa termasuk dirinya telah mengalami ketidakadilan. Batin Kartini seakan memberontak untuk menolak ketentuan sitem sosial masyarakat pada waktu itu yang harus menjadikannya Raden Ayu dan perempuan lainnya untuk tidak mendapatkan haknya sebagai manusia. Pemberontakan diri Kartini menjadi sebuah proses pembentukan konsep diri Kartini sebagai subjek I (aku).

Curahan hati Kartini melalui surat-suratnya sempat dianggap oleh beberapa kalangan sebagai gejala psikis yang menandakan bahwa Kartini adalah seorang yang "menye-menye" yang tidak memiliki keberanian memberontak dan malah memilih untuk menuruti orang tuanya menjadi seorang istri bupati. Tetapi sebenarnya surat-surat tersebut dapat dimaknai sebagai usaha refleksi subjektif perempuan dalam keberpengalamannya sebagai perempuan. Gambaran subjektif seperti itulah yang patut digali dalam keberpengalaman psikologis perempuan pada saat ini.


2. Emosi perempuan dan laki-laki

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi emosi dan cara berfikir manusia adalah otak. Hasil penelitian mengenai otak manusia baik laki-laki dan perempuan nyatanya masih beragam dan belum konsisten. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa ukuran hipokampus (sebuah bagian otak yang berperan dalam pengaturan proses emosi, mengingat dan belajar) perempuan lebih besar dari laki-laki sehingga perempuan berpeluang lebih emosional daripada laki-laki. Hasil yang berbeda didapatkan dari penelitian yang dilakukan Rosalind Franklin dari University Medicine & Science, ukuran hipokampus perempuan dan laki-laki hampir sama. Studi neurologis yang dilakukan oleh Mind Lab menyebutkan bahwa laki-laki memberikan efek psikologis yang lebih kuat daripada perempun ketika diberikan tayangan film.

Kita dapat menarik sebuah kesimpulan dari beberapa data penelitian yang telah dipaparkan, bahwa meskipun otak laki-laki tidak didesain untuk melibatkan perasaan tetapi bukan berarti laki-laki tidak memiliki emosi. Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki emosi, namun memang cara keduanya dalam mengekspresikan emosi berbeda. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh keadaan sosial budaya yang ada. Laki-laki lebih cenderung menyembunyikan emosinya karena pola asuh yang diterapkan kepada laki-laki dalam masyarakat patriarkal menginternalisasi beberapa stereotip bahwa laki-laki itu tidak boleh menangis, laki-laki itu adalah seorang yang kuat, dan menangis adalah tanda kelemahan. Sedangkan perempuan lebih terbuka dalam mengekspresikan emosinya karena pola asuh yang diterapkan kepada perempuan banyak mengenalkannya kepada berbagai macam ekspresi emosi.

3. Fear of Succes pada perempuan

Matina S Horner menemukan sebuah gejala psikologis yang dialami oleh beberapa mahasiswi di tempat dia bekerja yaitu sebuah perilaku menghindari kesuksesan atau sering disebut dengan istilah bahasa inggris yaitu Fear of Succes. Fear of Success pada perempuan ditandai dengan perilaku perempuan untuk mencapai prestasi yang jauh lebih rendah daripada kapasitas kemampuannya. Hal tersebut disebabkan oleh subordinasi yang dialami perempuan yang menempatkannya sebagai jenis kelamin kedua yang tidak boleh lebih berkualitas daripada laki-laki. Jika perempuan memiliki kualitas yang lebih daripada laki-laki, maka akan dianggap sebagai perilaku merendahkan harga diri laki-laki.

Istilah psikologi lain yang identik dengan gejala Fear of Success yaitu Cinderella Complex Syndrome yang ditandai dengan adanya ketakutan pada perempuan untuk mandiri dan memaksimalkan potensinya sehingga cenderung bergantung pada otoritas yang lebih tinggi khususnya laki-laki. Seperti cerita Cinderella yang mengalami kemalangan hidup ditinggalkan kedua orang tuanya dan harus hidup tersiksa dengan ibu tirinya, maka yang dia lakukan hanya menantikan seorang pangeran pujaan yang akan membawanya pergi meninggalkan kehidupan malangnya. Cinderella Complex disebabkan oleh perbedaan pola asuh yang diterapkan kepada anak perempuan dan laki-laki. Contohnya orang tua akan lebih cemas ketika melatih anak perempuan berjalan dibanding dengan anak laki-laki. Anak perempuan dianggap lemah sehingga harus dijaga secara ketat, sedangkan anak laki-laki dianggap kuat meskipun terjatuh ketika berlatih berjalan orang tua tidak perlu cemas.

Pengkhususan kajian psikologi melalui adanya psikologi perempuan tidak berarti kajian psikologi harus meminggirkan sudut pandang laki-laki. Sifat androsentris pada beberapa kajian akademik tidak selalu berarti laki-laki memiliki pandangan yang seksis. Tetapi sama halnya dengan perempuan, laki-laki juga memiliki sudut pandangnya sendiri yang juga layak dipertimbangkan dalam sebuah kajian. Adapun ketimpangan yang terjadi itu disebabkan karena sistem sosial yang ada. Laki-laki juga berpeluang menjadi korban dari sistem sosial yang ada. Keberadaan psikologi perempuan akan berimplikasi pada perlunya kajian psikologi yang khusus membahas laki-laki yaitu psikologi laki-laki. 

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Novel Aib dan Nasib (Minanto): Hidup di Kampung Itu Keras!

MEMBACA CALA IBI

Perihal Menikah