Ulasan Buku One Hundread Years of Solitude (Gabriel Garcia Marquez): Apa Yang Saya Tidak Tahu, Sudah Diketahui Buku Ini!
Bagi saya yang asing dengan wilayah Amerika Latin, membaca cerita kota Macondo dalam buku tulisan Gabo ini seakan sedang mendalami wilayah Amerika Latin. Kota Macondo merupakan kota imajiner dari Amerika Latin. Begitulah tuduhan saya setelah saya juga membaca biografi Gabo sebagai tambahan referensi.
Salah satu kebiasaan saya ketika membaca sebuah karya tulis, pasti saya juga akan membaca biografi si penulis. Menurut saya faktor-faktor seperti keadaan psikis, pengalaman, situasi lingkungan si penulis ketika menulis sebuah karya dapat mempengaruhi karya tulis itu sendiri, dan hal tersebut dapat mempengaruhi penafsiran saya mengenai sebuah karya tulis. Saya punya keyakinan bahwa sebuah karya tulis fiksi atau bukan, pasti menceritakan kehidupan si penulisnya baik secara langsung ataupun tidak.
Menamatkan buku ini membuat saya ter-stimulus untuk mencari tahu keterkaitan beberapa keterangan dalam buku ini dengan catatan sejarah Amerika Latin. Seperti keadaan politik Amerika Latin pada tahun kehidupan Gabo. Buku ini menggambarkan situasi Macondo ketika persaingan dan peperangan politik antara partai Liberal dan Konservatif sedang berkecamuk. Ternyata begitu juga yang terjadi pada situasi politik di Amerika Latin ketika itu.
Ada juga gambaran bagaimana berkuasanya perusahaan pisang setelah pembangunan rel kereta api menuju Macondo dirampungkan. Kemajuan yang didapatkan oleh perusahaan pisang tersebut ternyata berbanding terbalik dengan kesejahteraan pegawainya. Hal tersebut memicu protes dari para pegawai yang berakhir dengan penembakan sekitar tiga ribuan pegawai di area lapangan demo tanpa bersisa. Semuanya mati lalu jasadnya diangkut kereta untuk dibuang ke laut tanpa diketahui orang-orang. Sama halnya dengan cerita Macondo, sejarah juga mencatat perusahaan pisang begitu merebak di wilayah Amerika termasuk Amerika Latin diawali dengan perkembangan pembangunan rel kereta api.
Selain beberapa detail keterangan dalam buku ini yang seakan diambil dari pengalaman serta wawasan Gabo mengenai Amerika Latin. Nama Gabo sendiri, serta anak, dan istrinya juga dijadikan nama beberapa tokoh dalam buku ini.
Membaca cerita kota Macondo berarti juga membaca seratus tahun riwayat kehidupan keturunan pendiri Macondo, keluarga Buendia. Mulai dari awal Macondo didirikan oleh sekelompok orang yang hijrah dari wilayah Riochacha. Keputusan hijrah berawal dari sang pemimpin kelompok Jose Arcadio Buendia dengan sang istri Ursula yang memutuskan berhijrah untuk menghindari gangguan arwah gentayangan Prudencio Aguilar, seorang malang yang dibunuh Jose Arcadio Buendia karena sakit hati dengan ejekan yang sempat dilontarkan Prudencio kepada Ursula istrinya. Keputusan hijrah tersebut mendapat dukungan dari pengikut Jose Buendia dengan cara mereka ikut membersamai perjalanan hijrahnya.
Kota Macondo didirikan di atas wilayah terpencil yang berhasil ditemukan setelah dengan susah payah menjelajahi rawa-rawa. Kota Macondo ditata sedemikian rupa dimana setiap rumah dibangun dengan model dan cat yang sama serta pohon-pohon badam ditanam di sepanjang jalan. Macondo merupakan kota yang damai dengan jam-jam rumahan yang akan memainkan musik bersambung setiap setengah jam sekali. Masyarakat Macondo cenderung anarkis dengan menolak segala hal dan siapa saja yang mencoba mengusik kedamaian mereka melalui penggunaan otoritas Negara. Masyarakat Macondo sudah nyaman dengan cara hidup mereka sendiri yang bebas.
Jalan hidup dan nasib setiap anggota keluarga Buendia begitu menonjol dan dominan mewarnai perjalanan kota Macondo. Sulit untuk mengingat satu-satu anggota keluarga Buendia tanpa terus bolak balik membuka pohon silsilah keluarga mereka. Pemberian nama yang sama secara berulang-ulang di beberapa generasi membuat saya sering lelah membaca buku Gabo ini. Saya harus bolak balik melihat silsilah keluarga Buendia yang dengan baik hati disimpan oleh Gabo sendiri atau mungkin penerbit di halaman pertama buku ini. Siapapun yang menyimpannya begitu pengertian karena kebiasaan keluarga nyentrik ini dalam memberi nama sungguh akan menyulitkan pembaca. Cara membedakan anggota keluarga dengan nama yang sama cukup melihat nama istri atau suaminya di pohon silsilah keluarga, yang kabar baiknya nama mereka berbeda.
Setiap anggota keluarga Buendia memiliki karakteristik, kepribadian dan kemampuan yang luar biasa. Tetapi keunikan mereka tersebut mengundang nasib tragis pada setiap akhir hidup mereka. Hal-hal magis yang menyelimuti keluarga ini dari awal membuat keluarga ini semakin nyentrik. Perilaku inses yang banyak dilakukan dalam keluarga ini, bibi dengan sepupu atau bahkan nenek dengan cucu, menambah kerumitan keluarga Buendia.
Membaca novel genre realis magis tulisan Gabo ini sangat menghibur saya yang memang pecinta genre tersebut. Tetapi masih tidak seasik novel-novel karya Eka Kurniawan. Bedanya tulisan Eka lebih lucu dan imajinasi magisnya sangat kurang ajar, sangat jauh di luar imajinasi saya.
Hal yang sangat menarik hati saya dalam novel ini yaitu seorang Gipsi bernama Melquiades. Seorang yang kaya dengan wawasan ilmu pengetahuan. Secara berkala selalu membawa barang-barang penemuan paling mutakhir pada zamannya. Meskipun catatan mengenai masyarakat Gipsi dalam sejarah begitu banyak versi. Tetapi saya lebih suka versi yang ditawarkan Gabo dalam novel ini. Masyarakat Gipsi yang kaya akan pengetahuan. Hal tersebut masuk akal karena gaya hidup mereka yang nomaden bisa saja membuat mereka mendapatkan begitu banyak informasi dari seluruh wilayah yang mereka lalui.
Tambahan informasi, buku ini diterbitkan dengan typo yang banyak sekali. Saya curiga penerjemah telah keliru dalam menceritakan satu atau beberapa tokoh. Nama yang sama bisa jadi membuatnya salah merujuk tokoh yang mana. Tetapi saya tidak mau menambah pusing karena meskipun tidak ada kesalahan perujukan tokoh yang saya curigai tersebut, percayalah isi otak saya sudah seperti benang kusut karena berusaha membedakan setiap tokohnya. Puji tuhan novel yang membuat saya jungkir balik ini rampung saya baca dengan waktu yang cukup lama kalau menghitung kecepatan membaca saya selama ini.
Salah satu kebiasaan saya ketika membaca sebuah karya tulis, pasti saya juga akan membaca biografi si penulis. Menurut saya faktor-faktor seperti keadaan psikis, pengalaman, situasi lingkungan si penulis ketika menulis sebuah karya dapat mempengaruhi karya tulis itu sendiri, dan hal tersebut dapat mempengaruhi penafsiran saya mengenai sebuah karya tulis. Saya punya keyakinan bahwa sebuah karya tulis fiksi atau bukan, pasti menceritakan kehidupan si penulisnya baik secara langsung ataupun tidak.
Menamatkan buku ini membuat saya ter-stimulus untuk mencari tahu keterkaitan beberapa keterangan dalam buku ini dengan catatan sejarah Amerika Latin. Seperti keadaan politik Amerika Latin pada tahun kehidupan Gabo. Buku ini menggambarkan situasi Macondo ketika persaingan dan peperangan politik antara partai Liberal dan Konservatif sedang berkecamuk. Ternyata begitu juga yang terjadi pada situasi politik di Amerika Latin ketika itu.
Ada juga gambaran bagaimana berkuasanya perusahaan pisang setelah pembangunan rel kereta api menuju Macondo dirampungkan. Kemajuan yang didapatkan oleh perusahaan pisang tersebut ternyata berbanding terbalik dengan kesejahteraan pegawainya. Hal tersebut memicu protes dari para pegawai yang berakhir dengan penembakan sekitar tiga ribuan pegawai di area lapangan demo tanpa bersisa. Semuanya mati lalu jasadnya diangkut kereta untuk dibuang ke laut tanpa diketahui orang-orang. Sama halnya dengan cerita Macondo, sejarah juga mencatat perusahaan pisang begitu merebak di wilayah Amerika termasuk Amerika Latin diawali dengan perkembangan pembangunan rel kereta api.
Selain beberapa detail keterangan dalam buku ini yang seakan diambil dari pengalaman serta wawasan Gabo mengenai Amerika Latin. Nama Gabo sendiri, serta anak, dan istrinya juga dijadikan nama beberapa tokoh dalam buku ini.
Membaca cerita kota Macondo berarti juga membaca seratus tahun riwayat kehidupan keturunan pendiri Macondo, keluarga Buendia. Mulai dari awal Macondo didirikan oleh sekelompok orang yang hijrah dari wilayah Riochacha. Keputusan hijrah berawal dari sang pemimpin kelompok Jose Arcadio Buendia dengan sang istri Ursula yang memutuskan berhijrah untuk menghindari gangguan arwah gentayangan Prudencio Aguilar, seorang malang yang dibunuh Jose Arcadio Buendia karena sakit hati dengan ejekan yang sempat dilontarkan Prudencio kepada Ursula istrinya. Keputusan hijrah tersebut mendapat dukungan dari pengikut Jose Buendia dengan cara mereka ikut membersamai perjalanan hijrahnya.
Kota Macondo didirikan di atas wilayah terpencil yang berhasil ditemukan setelah dengan susah payah menjelajahi rawa-rawa. Kota Macondo ditata sedemikian rupa dimana setiap rumah dibangun dengan model dan cat yang sama serta pohon-pohon badam ditanam di sepanjang jalan. Macondo merupakan kota yang damai dengan jam-jam rumahan yang akan memainkan musik bersambung setiap setengah jam sekali. Masyarakat Macondo cenderung anarkis dengan menolak segala hal dan siapa saja yang mencoba mengusik kedamaian mereka melalui penggunaan otoritas Negara. Masyarakat Macondo sudah nyaman dengan cara hidup mereka sendiri yang bebas.
Jalan hidup dan nasib setiap anggota keluarga Buendia begitu menonjol dan dominan mewarnai perjalanan kota Macondo. Sulit untuk mengingat satu-satu anggota keluarga Buendia tanpa terus bolak balik membuka pohon silsilah keluarga mereka. Pemberian nama yang sama secara berulang-ulang di beberapa generasi membuat saya sering lelah membaca buku Gabo ini. Saya harus bolak balik melihat silsilah keluarga Buendia yang dengan baik hati disimpan oleh Gabo sendiri atau mungkin penerbit di halaman pertama buku ini. Siapapun yang menyimpannya begitu pengertian karena kebiasaan keluarga nyentrik ini dalam memberi nama sungguh akan menyulitkan pembaca. Cara membedakan anggota keluarga dengan nama yang sama cukup melihat nama istri atau suaminya di pohon silsilah keluarga, yang kabar baiknya nama mereka berbeda.
Setiap anggota keluarga Buendia memiliki karakteristik, kepribadian dan kemampuan yang luar biasa. Tetapi keunikan mereka tersebut mengundang nasib tragis pada setiap akhir hidup mereka. Hal-hal magis yang menyelimuti keluarga ini dari awal membuat keluarga ini semakin nyentrik. Perilaku inses yang banyak dilakukan dalam keluarga ini, bibi dengan sepupu atau bahkan nenek dengan cucu, menambah kerumitan keluarga Buendia.
Membaca novel genre realis magis tulisan Gabo ini sangat menghibur saya yang memang pecinta genre tersebut. Tetapi masih tidak seasik novel-novel karya Eka Kurniawan. Bedanya tulisan Eka lebih lucu dan imajinasi magisnya sangat kurang ajar, sangat jauh di luar imajinasi saya.
Hal yang sangat menarik hati saya dalam novel ini yaitu seorang Gipsi bernama Melquiades. Seorang yang kaya dengan wawasan ilmu pengetahuan. Secara berkala selalu membawa barang-barang penemuan paling mutakhir pada zamannya. Meskipun catatan mengenai masyarakat Gipsi dalam sejarah begitu banyak versi. Tetapi saya lebih suka versi yang ditawarkan Gabo dalam novel ini. Masyarakat Gipsi yang kaya akan pengetahuan. Hal tersebut masuk akal karena gaya hidup mereka yang nomaden bisa saja membuat mereka mendapatkan begitu banyak informasi dari seluruh wilayah yang mereka lalui.
Tambahan informasi, buku ini diterbitkan dengan typo yang banyak sekali. Saya curiga penerjemah telah keliru dalam menceritakan satu atau beberapa tokoh. Nama yang sama bisa jadi membuatnya salah merujuk tokoh yang mana. Tetapi saya tidak mau menambah pusing karena meskipun tidak ada kesalahan perujukan tokoh yang saya curigai tersebut, percayalah isi otak saya sudah seperti benang kusut karena berusaha membedakan setiap tokohnya. Puji tuhan novel yang membuat saya jungkir balik ini rampung saya baca dengan waktu yang cukup lama kalau menghitung kecepatan membaca saya selama ini.
