Ulasan Novel Setan Van Oyot (Djokolelono): Biarlah Takhayul yang Menjawab
Hanya ada dua nasib yang dapat diterima oleh wanita pribumi "cantik" di masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Status sosial mereka bisa naik sampai setingkat Mevrouw, tingkat paling tinggi yang dapat dicapai wanita pribumi pada masa itu. Kalau tidak, mungkin hanya menjadi objek seksual para lelaki bangsa mana saja termasuk bangsanya sendiri, entah itu jadi objek siulan para lelaki kucing jalanan, colekan para Meneer genit, atau jadi gundik pengganti guling para londo kesepian.
Butuh tiga setengah abad untuk pribumi menjadi sadar. Bangsa mereka telah hidup tanpa kekuasaan. Macam-macam siasat muncul pada sebagian diri individu pribumi di Wlingi untuk meraih kekuasaan.
Seorang pribumi "cantik" bernama Kesi telah bertahan hidup dengan mengandalkan kecantikannya. Kecantikannya memang bisa dikatakan sebuah berkah cuma-cuma pemberian semesta, tetapi keahlian mengandalkannya merupakan sebuah usaha cerdas. Hanya wanita cerdas yang dapat mengambil keuntungan dari apa saja yang menjadi kelebihannya. Kecerdasan berasal dari hasil belajar. Kesi mendapatkan kecerdasan dari pengalamannya sebagai wanita penghibur. Seorang Mevrouw telah mendidiknya menjadi seorang wanita pribumi yang pandai berbahasa Belanda, bergaya hidup mewah, dan berkemampuan menyenangkan hati para sinyo. Sang Mevrouw sengaja mengajari Kesi untuk dijadikan investasi terakhir ketika perekonomiannya mulai genting. Kesi adalah murid yang baik, dia belajar benar dari mevrouw-nya itu. Hasil puncak dari pembelajarannya yaitu tumbuhnya sebuah ambisi meraih status sosial tertinggi yaitu menjadi seorang Mevrouw.
Pribumi lain, Raden Hadiprayitno merasa tak cukup hidup sebagai seorang Sinder pabrik gula. Proyek perayaan hari ulang tahun sang ratu menjadi ladang korup yang cocok untuk membuatnya naik jabatan dan menikmati gaya hidup yang lebih mewah.
Berbeda dengan Kesi dan Sinder Hadiprayitno, sekelompok pribumi yang terdiri dari buruh-buruh pabrik dari berbagai daerah di Nusantara membuat siasat pergerakan untuk menggulingkan pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Kabar kemenangan Jepang adalah pertanda waktu yang tepat untuk bergerak karena keadaan pemerintahan kolonial belanda sedang terancam.
Waktu tiga setengah abad, waktu yang cukup untuk melebur kehidupan beberapa bangsa yang berbeda. Meskipun, kekuasaan membuat mereka tetap berjarak satu sama lain. Pada dasarnya semua bangsa adalah sama, masing-masing memiliki komposisi yang terdiri dari manusia baik dan manusia bangsat.
Thijs cukuplah menjadi contoh seorang Belanda yang tidak serakah, dia tidak menggunakan kekuasaan yang sudah menempel padanya sejak lahir untuk bertahan hidup. Hidup sudah cukup dengan menjadi sederhana dan rendah hati. Tidak membodohi orang, sebaliknya malah mengajar pribumi membaca dan menulis. Cukuplah semua itu menarik setiap orang untuk menerimanya dan mengabaikan perbedaan yang ada, termasuk menarik hari seorang perempuan Tionghoa.
Kehidupan para tokoh saling bertaut, ada yang disatukan oleh waktu kematian, cinta kasih, atau pertalian darah. Semua akhir kehidupan mereka menjadi misteri dan dilimpahkan jawabannya pada sebuah pohon beringin penuh takhayul, Van Oyot. Jawaban paling mudah dan dapat diterima oleh level pengetahuan kebanyakan pribumi.
Pemahaman saya mengenai novel ini dibatasi oleh wawasan bahasa Jawa dan Belanda saya yang minim. 40 persen isi novel ini berbahasa Jawa dan Belanda, sedikit terbantu dengan terjemahan bahasa Indonesia pada beberapa bagian. Wajar karena memang bahasa yang digunakan pada saat itu memang banyak. Bahasa Jawa biasa dipakai pribumi, Melayu dipakai oleh pribumi yang terdidik, dan Belanda dipakai oleh bangsa kolonial. Ceritanya akan menjadi sangat lucu jika kamu memang menguasai semua bahasa yang dipakai dalam novel ini.
Butuh tiga setengah abad untuk pribumi menjadi sadar. Bangsa mereka telah hidup tanpa kekuasaan. Macam-macam siasat muncul pada sebagian diri individu pribumi di Wlingi untuk meraih kekuasaan.
Seorang pribumi "cantik" bernama Kesi telah bertahan hidup dengan mengandalkan kecantikannya. Kecantikannya memang bisa dikatakan sebuah berkah cuma-cuma pemberian semesta, tetapi keahlian mengandalkannya merupakan sebuah usaha cerdas. Hanya wanita cerdas yang dapat mengambil keuntungan dari apa saja yang menjadi kelebihannya. Kecerdasan berasal dari hasil belajar. Kesi mendapatkan kecerdasan dari pengalamannya sebagai wanita penghibur. Seorang Mevrouw telah mendidiknya menjadi seorang wanita pribumi yang pandai berbahasa Belanda, bergaya hidup mewah, dan berkemampuan menyenangkan hati para sinyo. Sang Mevrouw sengaja mengajari Kesi untuk dijadikan investasi terakhir ketika perekonomiannya mulai genting. Kesi adalah murid yang baik, dia belajar benar dari mevrouw-nya itu. Hasil puncak dari pembelajarannya yaitu tumbuhnya sebuah ambisi meraih status sosial tertinggi yaitu menjadi seorang Mevrouw.
Pribumi lain, Raden Hadiprayitno merasa tak cukup hidup sebagai seorang Sinder pabrik gula. Proyek perayaan hari ulang tahun sang ratu menjadi ladang korup yang cocok untuk membuatnya naik jabatan dan menikmati gaya hidup yang lebih mewah.
Berbeda dengan Kesi dan Sinder Hadiprayitno, sekelompok pribumi yang terdiri dari buruh-buruh pabrik dari berbagai daerah di Nusantara membuat siasat pergerakan untuk menggulingkan pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Kabar kemenangan Jepang adalah pertanda waktu yang tepat untuk bergerak karena keadaan pemerintahan kolonial belanda sedang terancam.
Waktu tiga setengah abad, waktu yang cukup untuk melebur kehidupan beberapa bangsa yang berbeda. Meskipun, kekuasaan membuat mereka tetap berjarak satu sama lain. Pada dasarnya semua bangsa adalah sama, masing-masing memiliki komposisi yang terdiri dari manusia baik dan manusia bangsat.
Thijs cukuplah menjadi contoh seorang Belanda yang tidak serakah, dia tidak menggunakan kekuasaan yang sudah menempel padanya sejak lahir untuk bertahan hidup. Hidup sudah cukup dengan menjadi sederhana dan rendah hati. Tidak membodohi orang, sebaliknya malah mengajar pribumi membaca dan menulis. Cukuplah semua itu menarik setiap orang untuk menerimanya dan mengabaikan perbedaan yang ada, termasuk menarik hari seorang perempuan Tionghoa.
Kehidupan para tokoh saling bertaut, ada yang disatukan oleh waktu kematian, cinta kasih, atau pertalian darah. Semua akhir kehidupan mereka menjadi misteri dan dilimpahkan jawabannya pada sebuah pohon beringin penuh takhayul, Van Oyot. Jawaban paling mudah dan dapat diterima oleh level pengetahuan kebanyakan pribumi.
Pemahaman saya mengenai novel ini dibatasi oleh wawasan bahasa Jawa dan Belanda saya yang minim. 40 persen isi novel ini berbahasa Jawa dan Belanda, sedikit terbantu dengan terjemahan bahasa Indonesia pada beberapa bagian. Wajar karena memang bahasa yang digunakan pada saat itu memang banyak. Bahasa Jawa biasa dipakai pribumi, Melayu dipakai oleh pribumi yang terdidik, dan Belanda dipakai oleh bangsa kolonial. Ceritanya akan menjadi sangat lucu jika kamu memang menguasai semua bahasa yang dipakai dalam novel ini.